latest articles

sesait community photo

 photo dewaapi2.gif

 photo dewaapi2.gif

Rabu, 11 September 2013

ULTAH GALOK KE-14

ULTAH GALOK KE-14 Read more

Kamis, 05 September 2013

lopiko _ ku nganti epe be (lombok Utara)

Read more

Rabu, 07 Agustus 2013

Desa Sesait adalah salah satu desa yang ada di kecamatan kayangan kabupaten lombok utara provinsi nusa tenggara barat,dengan luas wilayah 14000 km2 dan berbatasan langsung dengan taman nasional gunung rinjani yang sudah mendunia.
Blog ini bertujuan untuk lebih mendekatkan Desa Sesait dengan Masyarakat,memuat berbagai hal yang berhubungan dengan Desa Sesait mulai dari sistem dan kebijakan pemerintahan Desa hingga Program keasyarakatan di Desa Sesait.
semoga Blog sederhana ini bermanfaat...
Read more

Wali Penyebar Agama Islam Pertama di Gumi Sesait

Sesait,(SK),-- Berawal dari sebuah kampung kecil pada Pertengahan abad 15 M, terbentuklah tatanan kehidupan masyarakat yang memegang teguh adat istiadat dan budaya yang kental melegenda. Kearifan lokal yang terus dipertahankan tersebut, sebelum kedatangan para wali penyebar Islam ke gumi paer Sesait kala itu, masyarakat kampung tersebut sudah memiliki keyakinan mempercayai adanya Tuhan, yaitu menganut keyakinan yang disebut Islam Jelema Ireng (Wettu Telu), artinya ajaran Islam belum sepenuhnya diterima (dalam hal Syariat). Namun dalam hal Ketauhidan, masyarakat Sesait memiliki faham dan keyakinan yang sangat kuat. Setelah kedatangan para Wali Allah (para penyebar Islam) yang mengajarkan agama Islam kepada penduduk kampung tersebut, maka teranglah pelaksanaan agama Islam di tempat itu.
Menurut Piagam Sesait yang di namakan Kitab Muhtadi’, pada abad 15 M kala itu, Sesait dijadikan sebagai Pusat Penyebaran Islam dan Pusat Pemerintahan Pertama yang mencakup wilayah kekuasaan Sesait , karena berdasarkan atas keputusan para wali di Jawa, bahwa wali yang pertama mengijakkan kakinya di gumi Sasait adalah Kanjeng Syeh Said Saleh Pedaleman, berasal dari Makkah Al-Mukarramah, dan Kanjeng Said Rahmad atau lebih dikenal oleh masyarakat stempat dengan sebutan Bapuk Rahmad. Kedua wali tersebut secara bersamaan datang ke kampung tersebut. Mereka berdua secara bersama-sama menyebarkan ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. Namun kedua wali penyebar Islam ini setelah tugas mereka dianggap sudah berhasil, lalu mereka melanjutkan perjalanan ke daerah lain yaitu ke tanah Jawa Dwipa. Tetapi kedua wali ini tidak begitu saja meninggalkan daerah ini.Maka mereka sepakat siapa yang tetap tinggal dan yang akan melanjutkan perjalanan.
Sejarah mencatat, bahwa yang tetap tinggal di kampung tersebut adalah Kanjeng Syeh Said Saleh Pedaleman dan beliau sebagai Mangku Gumi yang pertama di Kerajaan Sesait dengan gelar Diah Kanjeng Pangeran Sangapati atau lebih dikenal dengan nama Melsey Jaya. Kanjeng Syeh Said Saleh Pedaleman setelah ditinggal rekannya Kanjeng Said Rahmad, tugas misi suci itu terus dilakukannya hingga akhir hayatnya. Kanjeng Syeh Said Saleh Pedaleman inilah yang menurunkan Demung-Demung Sesait. Setelah mangkat beliau dimakamkan di hutan Pedewa Sesait sekitar 200 m kearah utara kampung Sesait sekarang dan makam beliau masih terpelihara hingga saat ini.(Eko-Agus)
 

Read more

Minggu, 03 Maret 2013

sesait community generation

sesait communityhttp://animoto.com/play/A6tMpwwqUKoszi73YZydkA
Read more

Jumat, 22 Februari 2013

Peninggalan Sejarah di Gumi Paer Sesait, Menyimpan Nilai Sejarah

Sesait, -- Berbicara mengenai sejarah, pandangan kita tidak pernah lepas dari masa lampau.
Sejarah bukanlah suatu yang asing bagi kita.Walaupun demikian, masih banyak diantara kita yang belum mengetahui sejarah peninggalan masa lalu yang ada disekitar kita. Hal ini disebabkan karena  kurangnya  peninggalan – peninggalan tertulis yang ditinggalkan oleh masyarakat terdahulu yang sampai kepada generasi berikutnya.
Dalam tulisan kali ini, terfokus pada beberapa peninggalan sejarah yang ditemukan di Gumi Paer Sesait, yang berhasil penulis kumpulkan dari berbagai sumber.
Menurut Perbekel Adat Sesait Masidep, menyebutkan ada beberapa peninggalan sejarah yang ditemukan di Gumi Paer Sesait, yang hingga kini masih tersimpan lestari. Peninggalan-peninggalan sejarah tersebut, ada disimpan dalam Kampu dan ada pula masih disimpan oleh keturunannya.

Diantara peninggalan sejarah yang hingga kini masih tersimpan lestari tersebut,


Pertama, Kulem adalah nama sebuah alat yang dipergunakan oleh Mak Beleq (sebutan Datu Bayan sebelum menjadi Datu Bayan) sebagai sikap (senjata) dalam perjalanan jauh ke Semboya, untuk memantau kawasan utara gunung Rinjani yang nantinya akan dijadikan sebagai lokasi mendirikan sebuah kerajaan.
Kulem, yang sudah berusia puluhan abad ini, secara turun binurun masih tersimpan rapi oleh keturunannya yang ke-58  di dusun Sumur Pande Tengak Desa Sesait Kecamatan Kayangan KLU. Kulem tersebut adalah sejenis Perisai terbuat dari kayu dan sebilah keris.

Sebenarnya, Kulem ini adalah nama orang yang mendampingi Mak Beleq dalam perjalanannya menuju daerah Semboya, untuk melihat  seluruh daerah kawasan utara gunung Rinjani, daerah yang mana kira-kira yang cocok untuk mendirikan sebuah kerajaan baru. Dari kerajaan baru inilah nantinya akan dijadikan pusat penyebaran Islam keseluruh pelosok dikawasan utara gunung Rinjani.

Mak Beleq, dengan didampingi oleh pengiringnya yang bernama Kulem pada masa itu, sebelum sampai ke tempat tujuan, Mak Belek singgah dulu disebuah gubug di daerah Santong (sekarang Santong Asli) untuk beristirahat sejenak menghilangkan kepenatan akibat perjalanan jauh. Gubug yang digunakan oleh Mak Beleq sebagai tempat istirahat tersebut, hingga sekarang gubug  ini masih terpelihara dengan baik oleh keturunannya, yang memang berdasarkan purusanya.

Untuk sampai ketempat yang dituju oleh Mak Beleq bersama pendampingnya Kulem kala itu, mengharuskan dirinya singgah dulu untuk beristirahat dirumah yang sampai saat ini masih terpelihara di Santong Asli. Setelah itu baru dilanjutkan perjalanannya menuju Semboya. Tiba disana, dicarilah tempat yang cocok dijadikan pijakan, untuk melihat daerah sejauh mata memandang yang ada di lereng utara gunung Rinjani. Batu pijakan yang digunakan oleh Mak Beleq kala itu, yang oleh masyarakat adat wet Sesait dikenal dengan nama”Batu Penginjakan Semboya,” juga sampai saat ini masih terpelihara dengan baik dan dijaga oleh purusanya.

Kedua, ‘Bale Bangar Gubuq’, yang oleh masyarakat setempat disebutnya Pagalan. Bale ini, terletak ditengah-tengah Gubuq Dasan Beleq, dengan ukuran 5x5 m. Bale (rumah) ini, menurut Malinom, keberadaannya diyakini dibuat oleh orang yang pertama kali datang dan menetap di Dusun Dasan Beleq.

“Kedatangannya dari mana, dan siapa nama nya, itu tidak bisa dipastikan,”kata Malinom dengan mimik yang penuh keseriusan.
Namun menurut Sahir (40), salah seorang tokoh muda yang disegani di dusun setempat, menceritakan kepada suarakomunitas.net, tentang keberadaan dari seorang wali penyebar agama Islam yang pertamakali datang dan menetap di kampung Dasan Beleq tersebut.
Diceritakan, konon katanya, pada sekitar abad 16 Masehi, ketika agama Islam sudah mulai tersebar ke seluruh pelosok tanah air, tak terkecuali para penyebar ajaran Islam sampai juga ke wilayah utara lereng gunung Rinjani. Termasuk di gumi Dasan Beleq ini.

Para penyebar agama Islam yang pertama kali datang ke tempat itu (Dasan Beleq), menurut Sahir, diawali dari Gunung Rinjani. Penyebar agama Islam ini, bernama Mak Beleq dan Kendi (menyerupai Kendi) turun dari Gunung Rinjani, yang dikemudian hari, dalam perjalanan sejarah, setelah berkuasa dan menyebarkan agama Islam di daerah Bayan, Mak Beleq dikenal dengan sebutan Datu Bayan.Sedangkan temannya yang bernama Kendi tadi, kala itu,tetap tinggal dan menyebarkan agama Islam di daerah Dasan Beleq dan sekitarnya.

Ketiga, Peninggalan Sriangge, berupa : Takepan Lahat yang ditulis didaun lontar, Kitab Shalawatan dan Umbak Bayan, juga yang hingga kini masih tersisa adalah pohon Kelor dan Paving block. Pohon Kelor (remunggek) ini masih ada hingga sekarang, tidak jauh dari makamnya. Pohon ini dulunya diyakini sengaja ditanam dekat tempayan (Ploncor) yang digunakan sebagai wadah menyimpan air untuk wudu’.
Dalam menjalani kehidupan bersama istrinya di gawah alas bana ini, Sriangge terus menjalankan  kewajibannya untuk ta’at kepada Allah Swt, hingga akhir hayatnya.Disamping itu, hingga saat ini bekas peninggalan Sriangge masih tersimpan.
Menurut Amaq Sudirahman (Narimah), salah seorang keturunan ke -12 dari Sriagan, menceritakan bahwa ke-5 anak Sriagan ini, antara lain Sriangge, Bading, Gubah, Oncok dan Goneng.
”Kelima anak dari Sriagan ini mempunyai andil dalam memperluas wilayah penyebaran Islam kala itu,”sebut Narimah.
Sebut saja, lanjut Narimah  seperti Gubah, mendapat tugas ke Soloh dan ke Jawa Timur serta ke Betawi, Bading ke Lombok Tengah, Goneng ke Bayan, Oncok di sekitar Barat Laut wet Sesait dan Sriangge ke Beraringan dan sekitarnya.

Bagaimana kiprah dan keberadaan dari para penyebar Islam putra asli dari Gumi Paer Sesait ini, tidak banyak diketahui. Hanya yang dibahas dalam tulisan ini adalah ketokohan Sriangge dan keteguhan imannya dalam mempertahankan ajaran Islam dari pengaruh Hindu yang masuk ke wet Sesait kala itu.

Di ceritakan bahwa ketika berkuasanya kerajaan Majapahit sampai menguasai seluruh Nusantara lewat sumpah serapah dari patihnya  Gajah Mada, maka pengaruhnya sampai juga ke tanah / gumi paer Sesait, yang kala itu penduduknya menganut agama Islam yang ta’at beribadah. Sehingga, ketika pengaruh Hindu ini masuk ke gumi paer Sesait, maka dari kalangan santri yang ta’at beribadah ini, meninggalkan gumi paer Sesait untuk mengasingkan diri dari pengaruh Hindu ke salah satu kawasan Gawah Alas Bana, yang belum pernah terjamah tangan manusia.
Di Gawah Alas Bana (diyakini sebelah barat Dusun Beraringan sekarang) inilah Santri yang bernama Sriangge bersama keluarganya tinggal dan menetap hingga akhir hayatnya.

Keempat, Peninggalan Sayyid Anom dalam kiprahnya menyebarkan agama Islam. Al-Qur’an tulis tangan pada kulit onta, yang usianya menurut Piagam Sesait sekitar 580 tahun yang lalu. Disamping itu, ada juga peninggalannya yang lain, seperti Mesjid Kuno, Tongkat khutbah yang terbuat dari hati pohon pisang (galih) dan Balai Agung Adat (Singgasana Raja) yang disebut Kampu.

Ajaran-ajaran yang dibawa oleh ulama Sayyid Anom ini adalah Fiqh Ushul dan Tasawuf. Dalam praktek syiarnya, metode yang dilakukan adalah tidak bertentangan dengan adat istiadat setempat. Sehingga dalam perayaan hari-hari besar Islam, seperti Maulid Nabi Muhammad Saw  ketika itu, dilaksanakan secara adat. Hingga kini, ritual Maulid adat di kampung yang namanya Sesait ini, tetap lestari pelaksanaan Maulid secara Adat.

Ulama Sayyid Anom, dalam penyampaian risalah atau ajaran agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw ini, menurut Piagam Sesait, bahwa Raja Sesait Demung Melsi Jaya, berikut empat orang Patihnya masuk Islam pada awal abad ke 17.

Kelima, Peninggalan situs pemandian Inaq Empleng Bleleng yaitu Situs Sumur Lokok Paok.

Sekitar satu kilo meter ke arah barat laut Kampung Sesait inilah lokasi situs Sumur Lokok Paok itu berada. Keberadaan sumur ini, persis dilereng bukit gontoran Gunung Konoq, diatas Lokok Saong sebelah timur Gubuq Setowek, yang  hingga kini keasliannya masih terpelihara rapi. Hanya saja, seiring dengan perubahan zaman jutaan abad yang silam, penutup dari sumur ini sudah raib ditelan waktu.

Menurut cerita M.Ali salah seorang tokoh masyarakat Sesait, menceritakan hal ihwal keberadaan sumur lokok paok tersebut.

Di ceritakannya bahwa, sumur lokok paok ini, dulu pada zaman ireng, sumur ini diyakini sebagai sumur tempat pemandian Inaq Empleng Bleleng. Batu lesung yang ada persis didekat sumur ini, diyakini sebagai wadah tempat menumbuk kelapa atau sejenisnya sebagai alat untuk keramas. Kebiasaan orang tua zaman dahulu, sebelum mandi, biasanya keramas terlebih dahulu, baru kemudian mandi ’melangeh’.

Tidak jauh dari tempat batu lesung tadi, yaitu sekitar satu meter arah utara darinya terdapat satu buah batu lesung lagi yang lubangnya ada lima. Ini, menurut M.Ali, diyakini juga sebagai tempat Inaq Empleng Bleleng menaruh segala macam racikan ramuan untuk dijadikan obat-obatan.

Disamping situs Sumur Lokok Paok, ada dua sumur lagi berderet disebelah utaranya, yaitu Sumur Lokok Lengkak dan Sumur Lokok Koloh yang menyerupai gua. Dari sumur Koloh yang menyerupai gua inilah hingga sekarang digunakan oleh penduduk Sejongga, untuk mengambil air sebagai sumber kehidupan mereka.

Keenam, situs Lokok Kremean,Sumur Jukung, Sumur Minyak, Batu Lesong dan Lokok Nampih.

Menurut penuturan Lakiep (48) yang sudah empat tahun menjaga situs ini, menjelaskan bahwa, situs-situs ini ada keterkaitannya satu sama lain dan mengaku sebagai penjaga situs tersebut berdasarkan Purusa (garis keturunan) dari Bapuk Buntit-Amaq Sanggia (Marga Sanggia).

”Menurut cerita orang tua jaman dahulu, bahwa sebelum pelaksanaan Maulid Adat, ditempat situs ini, Pare (padi)  ditutu (ditumbuk) , kemudian ditampik (dibersihkan), kemudian di Krem (di rendam), lalu dibuat Jaja Pangan (sejenis penganan), lau di goreng. Setelah semuanya  ini sudah selesai, kemudian dibawa kembali menggunakan Jukung (sampan/rakit) ke Kampu (rumah adat) di Sesait untuk proses selanjutnya.”cerita Lakiep dengan semangat.

”Itulah sebabnya ada situs Batu Lesong (digunakan untuk menumbuk padi), situs Lokok Nampih (tempat Menampik/membersihkan beras), situs Lokok Kremean (tempat merendam beras sebelum dibuat jaja pangan) dan situs Sumur Jukung (diyakini sebagai sampan/rakit untuk membawa beras dan jaja pangan ke Kampu),”jelas Lakiep.

Ketujuh, Sumur Pemandian Datu Sesait Lokok Kapuk. Konon, menurut sejarah Sesait, dimasa jayanya pemerintahan “Datu Sesait” atau yang lebih dikenal oleh masyarakat Wet Sesait dengan sebutan “Tau Lokak Empat” (Pemusungan, Penghulu, Mangku Gumi dan Jintaka), sumur lokok Kapuk ini adalah di yakini sebagai tempat Pemandiannya.

Menurut cerita A.Kaimah (alm) yang berkuasa di Kampu Sesait (1870) sebagai Raja Sesait yang ke-25 kala itu, yang diceritakan kembali oleh Dagul dan Bukren, bahwa keberadaan Sumur Lokok Kapuk ini, dulunya adalah sebagai induk dari seluruh mata air yang bermunculan di gontoran Sentul hingga Gubug Setowek. Namun setelah Sumur Lokok Kapuk ini ditutup oleh Tau Lokak Empat Sesait, maka sumur ini tidak lagi mengeluarkan air seperti sedia kala atau sebesar sebagaimana keadaannya semula.

Sebagaimana diceritakan bahwa diameter sumber mata air di sumur lokok Kapuk yang diyakini ditunggui oleh seekor ikan Tuna Putih ini adalah sebesar batang pohon enau. Tidak bisa dibayangkan, betapa besar air yang keluar dari sumur tersebut. Sehingga ketika sumur ini belum ditutup dulu, aliran airnya membentuk sebuah kali besar. Namun sekarang, bekas aliran kali tersebut sudah menjadi areal persawahan milik Dagul Sentul.

Sumur ini ditutup oleh Tau Lokak Empat Sesait, menggunakan Ijuk, pare bulu satu ikat, sebilah keris, seekor ayam putih mulus  dan daun  sirih digulung kemudian dimasukkan dalam kepeng bolong dalam sebuah upacara ritual adat, karena dikhawatirkan akan menjadi rebutan penguasa Hindu yang sampai ke wet Sesait kala itu. Seandainya sumur ini tidak ditutup, maka orang-orang Hindu pelarian Majapahit dari Jawa abad 16 silam, akan bermukim dan menetap di lokasi sekitar sumur itu.

Kekhawatiran para sesepuh Sesait kala itu, patut diacungi jempol. Karena berhasil menutup sumur yang menjadi tempat pemandian para Datu yang memerintah di wet Sesait kala itu. Sehingga dengan ditutupnya sumur tersebut, penguasa Hindu yang datang ke Sesait yang merupakan pelarian dari Majapahit karena terdesak dengan masuknya pengaruh Islam masa itu, maka tidak menemukan sumur yang merupakan tempat pemandian para ‘Datu Sesait’ yang berkuasa secara turun-binurun.

Kedelapan, Situs Makam Datu Sentul yang bernama ’Sinom’. Makam ini tidak jauh dari jalan raya Sentul-Cempaka dan terletak dipinggir telabah, sekitar 10 meter  sebelah timur rumah Masdan (43) di Sentul Desa Pendua Kecamatan Kayangan Lombok Utara.

Keberadaan Makam ini, yang oleh masyarakat setempat diyakini memilki Karomah tersendiri. Misalnya saja, menurut salah seorang tokoh masyarakat Sentul yang tidak ingin dipublikasikan namanya mengatakan, ketika ada anggota masyarakat yang secara kebetulan duduk di atas makam Datu ini, maka seketika buah pelirnya terasa membesar. Padahal kenyataannya tidak demikian. Hanya perasaannya saja yang merasakan buah pelirnya membesar.

Menurut sejarah, ketika Datu Sinom ini memerintah kerajaan Sentul ratusan tahun silam, diceritakan bahwa pada masa jayanya, Datu Sinom adalah satu – satunya Raja yang tidak memiliki musuh dengan raja-raja yang berkuasa dilingkar utara gunung Rinjani kala itu. Termasuk dengan Raja Sesait. Karena antara Raja Sentul dengan Raja Sesait berbesan.

Wilayah kerajaan Sentul diyakini adalah hanya sebatas gontoran Sentul yang sekarang hingga Gubug Setowek. Kerajaan ini memiliki Kaula Bala sejumlah 144 KK. Itulah sebabnya, hingga sekarang, jumlah penduduk yang mendiami daerah Sentul yang menjadi sebuah Dusun saat ini harus berjumlah 144 KK. Tidak boleh lebih dari itu. Kalau lebih, menurut Bukren, harus pindah tempat tinggal diluar dari wet Sentul.

Peninggalan Datu Sinom diantaranya adalah Sumur Lokok Buyut. Sumur ini adalah tempat pemandian Datu Sinom beserta keluarganya. Namun keberadaan keluarga maupun sampai kapan memerintah, tidak banyak diketahui. Hanya, Datu sinom ini memiliki menantu yang bernama Merkani. Merkani inilah yang menurunkan nenek moyang Bukren Klau di Sesait.Dan salah satu peninggalannya yang sangat terkenal hingga kini masih dilestarikan adalah ’Tembang Sinom’.

Kesembilan, Situs telapak kaki Datu Keling. Menrut keterangan tokoh Adat KLU, Djekat S.Sos. yang juga anggota DPRD KLU, bahwa bekas telapak kaki ini erat kaitannya dengan cerita rakyat atau dongeng masyarakat Sesait, yaitu kisah perjalanan Teruna Keling (Datu Keling). Konon ceritanya Datu Keling pernah berwasiat kepada Kaula Balanya (Rakyat) jika suatu saat dia akan menghilang maka dia akan meninggalkan bekas telapak kakinya. Sangat besar kemungkinan, jika bekas telapak kaki ini adalah jejak Datu Keling seperti yang diwasiatkan.

Hal ini juga, dibenarkan oleh Juru Tulis Pembekel Adat Wet Sesait,Masidep. menjelaskan bahwa kisah perjalanan Datu Keling diabadikan dalam cerita Cupak Gurantang. Konon ceritanya, Teruna Kling memiliki dua orang putra. Putra pertamanya bernama Cupak yang berkarakter rakus dan sombong sedangkan putra keduanya bernama Gurantang adalah sosok yang lembut, baik hati, jujur dan patuh kepada orang tua. Sehingga kisah cupak gurantang diabadikan dalam bentuk drama oleh masyarakat.
Disamping keberadaan situs telapak kaki yang menempel ditebing bebatuan sungai cempogok Kayangan tersebut, bukti yang lain memperkuat dugaan bahwa, memang benar bekas telapak kaki Datu Keling yang diyakini pernah berkuasa disekitar lereng gunung Rinjani pada masa pra aksara, juga tidak jauh  dari situs telapak kali ini,sekitar dua ratus meter kea rah selatan, ditemukan pula situs Jukung (sampan/rakit), Telapak Kaki Kuda dan situs dudukan serta situs aliran air seni dari Datu Keling yang menempel disekitar bebatuan kelat lante Empak Mayong Kayangan.
 
Tidak hanya itu saja, sebagai pendukung keberadaan situs telapak kaki ini, sekitar 500 meter kearah barat daya situs tersebut, ditemukan pula situs Sumur Jembung dan situs Batu Dendeng Bertutup. Situs-situs yang ditemukan ini pula, yang oleh masyarakat adat wet Sesait diyakini sebagai peninggalan dari Datu Keling yang pernah ada dan jaya dimasanya.
Read more

Kamis, 21 Februari 2013

Situs Telapak Kaki Datu Keling Kayangan, Banyak Menyimpan Nilai Sejarah

Kayangan-- Obyek wisata situs telapak kaki Datu Keling yang terletak di tebing sungai Cempogok Kayangan KLU, menyimpan sejarah nilai seni dan budaya dari kerajaan Keling Hindu beberapa abad yang silam.
 
Situs ini terletak beberapa meter sebelah timur jalan raya Kayangan-Santong, yang bersebelahan dengan montong Cempogok, tidak jauh dari pusat Pemerintahan Kantor Camat Kayangan KLU.
Sebelumnya situs ini memang secara turun menurun sudah banyak warga masyarakat Kayangan yang menemukannya. Namun pada saat penemuannya itu, biasa-biasa saja belum ada yang berfikiran untuk mempublikasikannya. Hal ini disamping keterbatasan pengetahuan masyarakat setempat kala itu, juga disebabkan tidak tahu bagaimana caranya supaya banyak orang yang mengetahuinya.Lebih-lebih kala itu belum ada media cetak maupun dunia maya seperti jaman sekarang.

Sebagaimana diceritakan secara turun-temurun bahwa keberadaan situs telapak kaki yang menempel ditebing bebatuan diatas sungai Cempogok tersebut, adalah oleh masyarakat adat setempat diyakini, itu bekas telapak kaki Datu Keling yang membekas ketika Datu Keling berburu.
Sehingga bukti keberadaan situs ini, dibenarkan dengan pernyataan Datu Keling yang pernah berwasiat kepada kaula balanya (rakyatnya), bahwa  jika suatu saat dia akan menghilang, maka dia akan meninggalkan bekas telapak kakinya. Sangat besar kemungkinan, jika bekas telapak kaki ini adalah jejak Datu Keling seperti yang diwasiatkan.
 
Disamping keberadaan situs telapak kaki yang menempel ditebing bebatuan sungai cempogok Kayangan tersebut, bukti yang lain memperkuat dugaan bahwa, memang benar bekas telapak kaki Datu Keling yang diyakini pernah berkuasa disekitar lereng gunung Rinjani pada masa pra aksara, juga tidak jauh  dari situs telapak kali ini,sekitar dua ratus meter kea rah selatan, ditemukan pula situs Jukung (sampan/rakit), Telapak Kaki Kuda dan situs dudukan serta situs aliran air seni dari Datu Keling yang menempel disekitar bebatuan kelat lante Empak Mayong Kayangan.

Tidak hanya itu saja, sebagai pendukung keberadaan situs telapak kaki ini, sekitar 500 meter kearah barat daya situs tersebut, ditemukan pula situs Sumur Jembung dan situs Batu Dendeng Bertutup. Situs-situs yang ditemukan ini pula, yang oleh masyarakat adat wet Sesait diyakini sebagai peninggalan dari Datu Keling yang pernah ada dan jaya dimasanya.

Lokasi Situs-situs ini adalah dulunya hutan Busur yang lebat, banyak dihuni ular-ular berbisa dan berbahaya. Karenanya, waktu itu raja berinisiatif untuk meminta bantuan kepada kaula balanya (rakyatnya), terutama para sesepuh kerajaan (pawang ular berbisa), untuk bagaimana bisa bersahabat dengan  hutan yang menjadi lokasi daerah buruannya, guna mengusir binatang berbisa itu.
Para Pawang sesepuh kerajaan Keling tersebut, ternyata menggunakan sejumlah burung merak untuk mengusir ular-ular dari hutan, tempat Datu Keling berburu dan beristirahat, sambil menunggu hasil buruannya.

Jika mengunjungi situs-situs ini, baik situs telapak kaki Datu Keling maupun situs-situs Datu Keling yang lainnya, anda akan disuguhkan dengan pemandangan yang jauh dari kesan hingar bingar kota. Suasana sejuk, hijau, dan alami akan menemani anda di tempat tersebut.
Oleh pemerintah daerah, khususnya Dinas Pariwisata KLU, hendaknya situs-situs peninggalan budaya masa lampau yang banyak tersebar dan yang belum ditemukan  di daerah ini, dikemas sebagai icon daerah tujuan wisata dimasa mendatang.
Read more

Misteri Munculnya Sayyid Anom di Gumi Sesait

SESAIT, -- Konon, sebagaimana diceritakan secara turun binurun oleh masyarakat adat wet sesait, tentang misteri kemunculan seseorang yang bernama Sayyid Anom, yang sebelumnya lebih dikenal dengan sebutan Mak Beleq, yang nantinya dalam perjalanan sejarah dimasa medatang adalah terkenal sebagai Datu Bayan.
Diceritakan oleh Masidep (46), bahwa di gontoran Gumi Sesait, dibulan Puasa/Ramadhan, tepatnya tanggal 17 Ramadhan, timbullah sebuah cahaya berasal dari bawah pohon beringin besar yang ada di selatan kampung Sesait sekarang.

Bermula dari bawah pohon beringin tersebut, muncul sebuah cahaya, terus menerus berguling kearah utara ditengah kampung Sesait. Cahaya tersebut, ketika sudah sampai disekitar mimbar Mesjid Kuno Sesait (waktu itu Mesjid ini sudah ada), lalu berhenti sejenak. Melihat adanya cahaya yang berguling dari arah selatan tersebut, masyarakat Sesait berhamburan keluar dari rumah masing-masing ingin melihat dari dekat, keberadaan cahaya itu.

Oleh karena cahaya tersebut dikerumuni oleh orang banyak, kemudian cahaya tadi terus berguling kearah utara masuk kawasan pawang adat (gawah bening) atau hutan belantara yang belum pernah dijamah tangan manusia. Gawah bening/pawang alasbana tempat cahaya tadi masuk, oleh masyarakat Sesait kala itu disebutnya sebagai Gawah Pedewak Sesait.

Masyarakat Sesait yang ingin mengetahui keberadaan cahaya itu, terus mengikuti. Cahaya tadi, ketika sudah sampai  di suatu lembah dalam hutan pedewak, lalu cahaya itu menghilang. Dengan menhilangnya cahaya itu, kemudian muncullah sesosok bayi laki-laki mungil.Sehingga masyarakat yang mengikuti cahaya tadi, semuanya sibuk mencari alat  untuk dijadikan wadah menampung air, untuk memandikan bayi tersebut. Alat yang digunakan memandikan bayi itu, disebut Bandan. Hingga sekarang tenpat itu, yang oleh masyarakat sesait dikenal dengan Koloh Bandan.

Seiring dengan berjalannya waktu, bayi yang sejak kemunculannya di koloh Bandan, kemudian dipelihara oleh Datu Sesait yang dikenal dengan sebutan Demung. Maka bayi tersebut, sejak itu tinggallah bersama Datu Sesait dalam Kampu Sesait hingga Dewasa.

Sebagaimana lazimnya dalam ajaran Islam, bahwa seminggu kemudian dari sejak kelahiran bayi, diadakanlah aqiqah dan ngurisan. Maka bayi yang kemunculannya dari koloh bandan tersebut, oleh Datu Sesait di aqiqah dan dikuris (potong rambut). Hingga sekarang potongan rambut dari bayi tadi masih ada dan disimpan dalam suatu wadah yang disebut ‘Gandek’ di dalam Kampu Sesait.

Dalam perkembangan selanjutnya, bayi tersebut tumbuh menjadi seorang anak yang lincah dan cerdas. Tidak lazimnya seperti proses pertumbuhan bayi pada umumnya sangat lambat. Tetapi yang terjadi pada pertumbuhan bayi ini malah sebaliknya. Mungkin menurut akal sehat manusia normal, proses pertumbuhan bayi ini boleh dibilang sangat aneh bin ajaib.

Pasalnya, setiap jam, setiap hari, setiap minggu dan bahkan setiap bulan pertumbuhannya sangat cepat berubah menjadi besar. Sehingga oleh komunitas masyarakat Sesait kala itu, melihat pertumbuhan badan anak tadi selalu berubah setiap saat, itulah sebabnya disebut dengan “Mak Beleq”.

Dalam interaksi social sehari-hari, anak itu tumbuh besar dilingkungan keluarga kerajaan, dalam asuhan Datu Sesait ( Demung) dalam Kampu Sesait. Anak ini dalam kehidupan sehari-hari memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh anak kebanyakan sebayanya. Dia cerdas, pintar, pandai, sopan santun dalam bergaul, memiliki tabiat yang baik, dan patuh pada orang tua.

Melihat keberadaan Mak Beleq ini, maka suatu saat Datu Sesait (Demung) pernah menawarinya untuk menggantikan dirinya kelak menjadi Raja Sesait. Mak Beleq ketika mendengar tawaran tersebut, pada mulanya Dia  tidak siap. Tetapi dengan berbagai alasan yang bisa diterima oleh akalnya, akhirnya tawaran dari Datu Sesait tersebut diterimanya, dengan suatu syarat, yaitu sebelum dirinya (Mak Beleq) memangku jabatan sebagai Raja Sesait menggantikannya, Mak Beleq berpesan agar membuatkan Berugak sebanyak 4 buah, yang nantinya harus ditempatkan di empat penjuru kerajaan Sesait. Berugak ini harus sudah selesai sebelum dirinya memangku jabatan.

Raja Sesait pun menyanggupinya. Namun sebelum memangku jabatan dan sebelum keempat berugak itu dibuat, maka Mak Beleq minta ijin untuk pergi mengambil pakaian kebesaran kerjaan. Maka Mak Beleq pun menghilang.

“Inilah yang menjadi misteri, yang hingga saat ini belum terungkap. Dia minta ijin untuk mengambil pakaian kebesaran kerajaan, lalu menghilang,’kata Masidep, sekjen perbekel adat Sesait penuh keheranan.

“Dia pergi dan menghilang kemana serta muncul kembali, itu tidak ada yang mengetahuinya. Disinilah letak misterinya,”tambahnya.

Dalam kontara Sesait (sejarah) diterangkan, suatu ketika, sesuai dengan janjinya Mak Beleq kembali ke Sesait dengan membawa pakaian kebesarannya. Namun, apa yang terjadi ? Ketika beliau kembali, berugak empat buah yang  dijanjikan Datu Sesait dan harus sudah dibangun sebelum beliau memangku jabatan, serta berugak itu harus ditempatkan di empat penjuru mata angin diluar kerajaan Sesait, tetapi keempat berugak itu, belum bisa diwujudkan oleh Datu/Raja/Demung Sesait kala itu.

Diceritakan, sebenarnya Mak Beleq sudah siap menjadi Datu/Raja Sesait kala itu. Namun karena Datu Sesait waktu itu tidak menepati janjinya, maka Mak Beleq urung menjadi Datu Sesait. Itulah sebabnya Mak Beleq dengan didampingi oleh Titik Kulem pergi kearah Semboya untuk mencari daerah baru, sebagai tempat mendirikan kerajaan baru.

Diceritakan, bahwa Mak Beleq dalam rangka mencari lokasi medirikan kerajaan baru, maka berangkatlah menuju Semboya dengan didampingi oleh Titik Kulem. Mak Beleq dalam perjalanan menuju semboya tersebut, sempat beristirahat di Santong. Tempat istirahatnya ini, dari sejak itu hingga sekarang dibuatkan berugak “Pagalan”. Dimana berugak ini, sekarang keadaannya sangat memprihatinkan atau tidak terurus. “Ini membutuhkan keseriusan dalam menangani peninggalan sejarah masa lalu,”kata Bukren Klau suatu saat.

Dalam perjalanan menuju Semboya ini, Mak Beleq membawa sebuah alat untuk dijadikan sikap berupa sebilah keris dengan alasnya berupa perisai yang terbuat dari kayu Satuba. Alat penyikap ini, oleh Mak Beleq diberikan nama “Kulem” .Karena yang ikut mendampingi Mak Beleq dalam perjalanannya ke Semboya untuk mencari daerah baru, yang nantinya sebagai tempat mendirikan sebuah kerajaan baru adalah bernama “Titik Kulem”. Itulah sebabnya alat tersebut dinamakan “Kulem.” Hingga sekarang alat tersebut masih tersimpan oleh keturunannya yang ke 58 (Masidep) di Dusun Sumur Pande Desa Sesait Kecamatan Kayangan KLU.

Setibanya Mak Beleq di Semboya, maka dilihatlah daerah sekitar utara gunung Rinjani.Dari ujung barat hingga ujung timur kawasan tersebut, terus diperhatikan. Dalam hatinya, Mak Beleq berkeyakinan bahwa daerah yang cocok dan tepat untuk dijadikan sebuah daerah kerajaan baru adalah Bayan. Dimana Bayan kala itu, sedang diperintah atau masuk daerah kekuasaan Datu Emban Sereak.
(bersambung…
Read more

Kelembagaan Adat Wet Sesait menjadi Pilot Projeck Word Bank

Kayangan,-- Dijadikannya system Kelembagaan Adat Wet Sesait kab. Lombok Utara sebagai Pilot Projeck (Proyek Percontohan) oleh Bank Dunia dalam hal system tata kelembagaan Adat berdasarkan hasil pantauan dan penelitian awal terhadap keberadaan dan fungsi sosialnya yang masih utuh.serta masih diakui oleh Komunitas Masyarakat wet Adat Sesait. 
Hal ini diakui oleh Juru Tulis (Sekretaris Jendral, red) Pembekel Adat, Masidep, S.Pd. yang biasa disafa amaq Masi mengungkapkan kepada suarakomunitas.net saat ditemui di Bale Pesanggrahannya Kamis Siang (16/6), bahwa keinginan Bank Dunia untuk menjadikan Kelembagaan Adat Wet Sesait sebagai Pilot Projeck telah disampaikan beberapa kali kepada kami, bahkan dalam rangka itu kami telah di undang dalam kegiatan-kegiatan seminar maupun work shop di Hotel Lombok Raya Mataram.
Ia juga menjelaskan tentang beberapa hal yang menjadi focus kajian Bank Dunia terkait pranata Adat dan pranata social budaya, diantaranya system social Komunitas Masyarakat Adat Sesait, Sistem Kelembagaan Adat dan Awik-awik (aturan hukum, red) baik yang tertulis maupun yang tidak.
Untuk diketahui, sambung Amaq Masi, ada beberapa Norma Adat yang dijadikan pedoman hidup Komunitas Masyarakat Adat Sesait, yaitu pertama, Adat Luir Gama (Norma Agama) sebagai Sumber Pedoman Utama. Kedua, Adat Tata Krama yang di dalamnya juga mengatur tentang Aji Krama atau Adat Pemulangan (Pernikahan). Ketiga, Adat Tapsila atau Norma Sopan Santun dan Kesusilaan.
Ketiga norma Adat tesebut menganut hubungan Hirarkis yang merupakan satu kesatuan utuh, tidak bisa terpisahkan satu dengan lainnya dalam penanganan ataupun penyelesaian persoalan yang ada ungkapnya. Lanjut Amaq Masi ketiga Norma Adat tersebut masing-masing terdiri dari beberapa bagian dengan Dosa Angkatan dan lambang tersendiri baik itu yang berkaitan dengan kasus Pidana maupun perdata.
Untuk dimaklumi, butuh waktu satu bulan untuk mengupas sebagian dari system social dan kelembagaan adat komunitas masyarakat Sesait ungkap Amaq Masi sambil tertawa.
Sama halnya dengan Juru Tulis Pembekel Adat, Ketua Pembekel Adat, Amaq Suniarni Degoh kepada suarakomunitas.net, saat dikonfirmasi di Bale Pesanggrahannya Kamis malam (16/6). Ketua Pembekel Adat yang akrab disafa Amaq Degoh ini membenarkan apa yang dikatakan Juru Tulisnya bahwa Bank Dunia sedang menjajaki Komunitas-komunitas Adat untuk dijadikan proyek percontohan. Terkait dengan Komunitas Adat Sesait sebagai pilot projek untuk saat ini belum ada kesepakatan yang jelas dengan pihak Bank Dunia.

Menurut Bank Dunia, ungkap Amaq Degoh, bahwa dalam hal adat istiadat Sesait memang paling layak untuk dijadikan sebagai pilot projek mengingat Komunitas Masyarakat Adat Sesait masih mengakui dan mempertahankan tradisi leluhur. Setiap pelaksanan Ritual Adat yang diupusatkan di Kampu Sesait dan Masjid Lokak (masjid kuno, red), masyarakat dari berbagai penjuru berbondong-bondong mengikuti pelaksanaan Ritual adat.
Ia juga menjelaskan Luas wilayah Sesait berdasarkan Kara-Kara (Kitab Sejarah, red) memiliki batas-batas yaitu batas sebelah barat laut adalah Dangar Duh (Pohon Kayu Dangar, red)  yang berada di Tanak Song Desa Jenggala Kec. Tanjung. Batas Sebelah Timur laut adalah Ketapang Sejolo Dusun Tampes Desa Selengen Kec. Kayangan. Batas sebelah tenggara adalah Lokok Tangkok areal Hutan Lindung dan Hutan Taman Nasional Gunung Rinjani dan sebelah Barat Daya adalah Punikan sebelah utara Kecamatan Lingsar Lombok Barat.
Namun, lanjut Amaq Degoh, seiring perkembangan Zaman dan pada era Orde Baru muncul kebijakan Penyeragaman system dengan berlakunya UU No.5 tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa, yang mengakibatkan terjadinya pemecahan wilayah Komunitas Adat menjadi tiga bagian wilayah adat dan beberapa Desa.
Untuk saat ini, sambungnya, ada empat Desa yang tetap memusatkan pelaksanaan Ritual Adat di pusat budaya (Kampu, red) yaitu : Desa Sesait sebagai Desa Induk dengan kepala Pemerintahan bergelar Pemusungan, Desa Pendua dengan kepala Pemerintahan adalah Kepala Desa, Desa Kayangan dengan Kepala Pemerintahan adalah Kepala Desa dan Desa Santong dengan Kepala Pemerintahan adalah Kepala Desa dimana keempat Desa tersebut berada di Kec. Kayangan Kab. Lombo Utara.
Menurut Amaq Degoh bahwa semua Kegiatan-kegiatan Ritual berpedoman kepada ajaran Agama Islam, misalanya pada saat pelaksanaan ritual Aji Makam “Pulek Taon Lakok Balit (pergantian musim Hujan ke Kemarau, red) dan Pulek Balit Lakok Taon, semua prosesi bernuansa keagamaan seperti mengaji sampai namatang (tamat) sebungkul (30 Jus, red) Al-Quran  di Masjid Lokak yang dipimpin oleh Lokak Empat (Empat Orang Tua dalam System Kelembagaan Adat, red)  yaitu Mangku Bumi, Pemusungan, Pengulu dan Jintaka. Demikian pula dalam ritual Ritual Adat lainnya, misalnya dalam pelaksanaan Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW selama tiga hari tiga malam juga dipusatkan di dalam Kampu dan Masjid Lokak (Kuno, red).
Sementara itu tokoh Masyarakat Adat Lombok Utara Djekat, S.sos. yang juga anggota DPRD KLU ini, menyambut baik keinginan Bank Dunia untuk menjadikan Sesait sebagai Pilot Projeck dalam hal tata kelembagaan adat. Tokoh kharismatik yang juga Pendiri Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) ini mengungkapkan bahwa kepercayaan Bank Dunia adalah moment bagi kami untuk menjelaskan tentang kebradaan Masyarakat Adat yang sesungguhnya karena selama ini muncul stigma yang kurang bersahabat terhadap keberadaan komunitas masyarakat adat. Misalnya istilah Waktu Telu yang sering disalah pahami oleh sebagian orang.
Waktu telu sering dikonotasikan dengan ajaran sesat dan menyimpang dari ajaran agama Islam padahal tidak demikian, buktinya kami memiliki Kitab Al-Quran cetakan pertam pada zaman Turki Usmani dan masih banyak lagi benda-benda bersejarah peninggalan Para Wali di dalam Kampu Sesait, ungkap bapak Djekat sambil menyudahi pembicaraan karena ada acara keluarga yang harus dihadiri.
Read more

Refleksi Sejarah Penyebaran Agama Islam Di Gumi Sesait

SESAIT, ---Tidak dapat dipungkiri bahwa Setiap kelompok umat manusia atau setiap komunitas masyarakat memliki perjalanan sejarah asal usul tersendiri yang menjadi latar belakang kehidupannya.
    Hal ini tercermin dalam tampilan budaya dan dicirikan oleh tatanan sosial serta keyakinan yang masih dipertahankan sebagai identitas dan diyakini akan dapat memberikan manfaat bagi kelompoknya.

    Demikian halnya dengan masyarakat Adat Wet Sesait yang terdiri dari 4 wilayah Administratif Pemerintahan Desa Yaitu Desa Sesait sebagai pusat Pemerintahan Adat, Desa Kayangan, Desa Pendua, Dan Desa Santong.

   Wet Sesait sebagai suatu komunitas Masyarakat Adat tentunya memiliki sistem sosial dan sistem kepercayaan yang bersumber dari nilai-nilai Agama Islam.

 Adapun sistem sosialnya adalah Merenten sedangkan sistem kepercayaannya adalah monotheisme atau meyakini adanya kekuasaan tunggal yaitu Allah Tuhan yang Maha Esa. Hal ini tercermin dalam tiap-tiap prosesi budaya atau ritual-ritual adat yang dijalankan atas dasar persaudaraan dan kebersamaan melalui gotong royong serta diyakini sebuah perwujudan tugas dan fungsi ummat manusia sebagai subyek perintah Ilahiah dalam membangun tatanan kehidupan sosial yang maju, damai dan berkeadilan di alam semesta.

    Dalam rangka mewujudkan tujuan dan hakekat kehidupan tesebut, sehingga sebagai upaya regenerasi (menanamkan makna atau nilai-nilai sejarah kepada generasi muda sekaligus sebagai upaya melestarikan ritual-ritual adat yang diyakini bersumber dari nilai-nilai agama atau sebagai upaya penterjemahan nilai-nilai agama (  Paham : Adat Bersendikan Agama) maka dilaksanakanlah berbagai ritual adat.

    Diantara ritual adat yang tetap dilaksanakan tiap tahun, menurut sekjen pembekel adat wet Sesait Masidep adalah Maulid Adat Nabi Besar Muhammada SAW., Aji Makam dan masih banyak lagi ritual Adat lainnya.

   Salah satu ritual Adat yang akan dilaksanakan, lanjut Masidep adalah Ritual Aji Makam. Ritual Aji Makam akan dilaksanakan pada tiap pergantian musim dari musim kemarau ke musim Hujan (Mangku Sesait). Prosesi ritual Aji Makam akan dilaksanakan pada setiap bulan September tiap tahun, dengan Membaca Kitab Suci Al-Qur’an dari awal sampai selesai (tamat) dalam satu malam.

   Adapun Kitab Suci Al-Quran yang akan dibaca adalah Kitab Suci Al-Qur’an yang dibawa oleh Alim Ulama’ yang bernama Sait Anom pertama kali dalam melaksanakan si’ar Agama Islam  di tanah Sesait dan tertulis pada kulit onta.

    Maka dalam rangka mengenang sejarah masuknya Agama Islam dan mengenang Tokoh penyebar Agama Islam ke Tanah Sesait maka dilaksanaknlah Acara Aji Makam. Kegiatan ini diawali dengan ritual memerikean (memperbaiki) Makam Tokoh penyebar agama Islam yang diyakini sebagai Datu Bayan.
Maka dalam rangka mengenang sejarah penyebaran Agama Islam dan dalam rangka mempertahankan Aqidah  Masyarakat Wet Sesait, maka para sesepuh adat wet Sesait mengadakan berbagai usaha dalam memberikan dukungan baik berupa moril maupun Materil demi suksesnya kegiatan dimaksud.
Menurut salah seorang sesepuh adat wet Sesait Djekat, mengatakan bahwa maksud diadakannya kegiatan ritual Aji Makam ini adalah selain sebagai Upacara Ritual yang rutin dilaksanakan tiap tahun, maka kegiatan semacam ini, diharapkan akan mampu dijadikan sebagai momen refleksi atau sebagai upaya perenungan sekaligus mengenang sejarah masuknya Ajaran Agama Islam di Tanah Sesait.

    Sedangkan tujuan kegiatan ini (ritual Aji Makam) adalah : sebagai sarana Da’wah dan menanamkan nilai-nilai kebenaran yang bersumber dari Agama Islam, sebagai upaya membangun kader bangsa yang memiliki loyalitas, militansi dan integratif yang tinggi.Sebagai upaya menghidupkan kembali nilai-nilai kearifan local, Ajang memperkuat Sillaturrahmi, memperkuat persatuan dan kesatuan masyarakat dan sebagai sarana menanamkan nilai-nilai Moral kepada generasi Muda
Read more

Terabaikan, Situs Sejarah Telapak Kaki Terbesar di Dunia

Kayangan,---  Antara percaya dan tidak, jika kita tidak menyaksikan secara langsung penampakan bekas telapak kaki dengan ukuran panjang 4 meter dan lebar 2 meter yang ditemukan baru-baru ini.
Awalnya bekas telapak kaki yang menempel di atas batu tebing sungai Cempogok, ditemukan secara tidak sengaja oleh Himpunan Bajang Adat Wet Sesait (Munajat-Sesait), Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara (KLU).
Bebrapa anggota DPRD, Tokoh Masyarakat dan Himpunan Bajang Wet Sesait, saat meninjau lokasi situs bersejarah (Telapak kaki terbesar) di Sesait
“Benar, kami menemukannya secara tidak sengaja, ketika kami sedang mengadakan pendataan situs-situs budaya dan sejarah Wet Adat Sesait, menjelang dilaksanakannya Maulid adat Nabi Muhammad SAW,” ujar Hamdan Wadi, Ketua Umum Munajat-Sesait kepada suarakomunitas.net, saat meninjau lokasi bersama Wakil Ketua I DPRD KLU dan  Anggota Komisi I DPRD KLU, serta bersama tokoh-tokoh adat Sesait, serta beberapa media massa, Senin (13/6/2011).
Situs telapak kaki Datu Keling ini, untuk pertama kalinya juga pernah dimuat di suarakomunitas.net awal Januari 2011 lalu. Disamping bekas telapak kaki Datu Keling yang ditemukan ditebing sebelah kiri montong cempogok tersebut, ada juga situs bekas duduk ketika istirahat berburu dan telapak kaki kudanya Datu Keling yang lokasinya tidak jauh dari situs telapak kaki tersebut.
"Di situs ini pula kita dapat saksikan bekas aliran air kencing Datu Keling, yang masih terlihat jelas menempel di atas batu kawasan batu kelat lante, sekitar 200 meter kearah selatan situs telapak kaki,"terang Masidep, yang juga tokoh perbekel adat wet sesait ini.
Sampai dengan berita ini diturunkan, pencarian situs-situs sejarah oleh pemerhati penulis sejarah yang tersebar diwilayah Kayangan, masih terus dilakukan. Sehingga sebagian besar situs-situs sejarah yang pernah jaya dan ada dimasa silam, bukti-buktinya hampir rampung dikumpulkan,
Menrut keterangan tokoh Adat KLU, Djekat S.Sos. yang juga anggota DPRD KLU, bahwa bekas telapak kaki ini erat kaitannya dengan cerita rakyat atau dongeng masyarakat Sesait, yaitu kisah perjalanan Teruna Keling (Datu Keling).
Konon ceritanya Datu Keling pernah berwasiat kepada Kaula Balanya (Rakyat) jika suatu saat dia akan menghilang maka dia akan meninggalkan bekas telapak kakinya. Sangat besar kemungkinan, jika bekas telapak kaki ini adalah jejak Datu Keling seperti yang diwasiatkan.
Hal ini juga, dibenarkan oleh Juru Tulis Pembekel Adat Wet Sesait, Masidep,S.Pd. Ia menambahkan bahwa kisah perjalanan Datu Keling diabadikan dalam cerita Cupak Gurantang. Konon ceritanya, Teruna Kling memiliki dua orang putra. Putra pertamanya bernama Cupak yang berkarakter rakus dan sombong sedangkan putra keduanya bernama Gurantang adalah sosok yang lembut, baik hati, jujur dan patuh kepada orang tua. Sehingga kisah cupak gurantang diabadikan dalam bentuk drama oleh masyarakat, ungkapnya.
Senada dengan hal tersebut, Wakil Ketua I DPRD KLU, Syarifudin SH. Ketika mengunjungi lokasi mengungkapkan bahwa situs sejarah ini merupakan penemuan yang mampu menghebohkan dunia, karena belum pernah sepanjang sejarah kita menemukan Bekas telapak kaki berukuran besar seperti ini.
Tapi, lanjutnya untuk membuktikan kebenaran sejarah dan keaslian bekas telapak kaki manusia, kita harapkan para arkeolog untuk mengkaji secara ilmiah, disamping itu kami akan mendesak Pemkab KLU untuk  berkoordinasi dengan Kelompok Sadar Wisata Wet Adat Sesait, dalam melakukan Pembenahan Tempat sebagai upaya revitalisasi potensi budaya, sehingga para pengunjung dapat dengan mudah mengakses tempat ini.
Read more

Situs Telapak Kaki Datu Keling Kayangan, Direspon Warga Asing

Kayangan, -- Keberadaan situs telapak kaki yang ditemukan di tebing sungai Cempogok Kecamatan Kayangan ini, direspon warga negara asing.
Pasalnya, warga negara asing yang bernama Peter Erich Boeck (59) asal Jerman, yang secara kebetulan berlibur di Lombok Utara ini, setelah melihat keberadaan situs tersebut, yang diberitakan di Radar Lombok maupun di Suarakomunitas,net dan Mataramnews.com, kemarin (14-15 Juni), Peter  Erich yang sudah melanglang buana di seluruh dunia ini, berkeinginan melihat dari dekat keberadaan situs tersebut.

Dengan dipandu gaet (penerjemah) asal Tanjung Ida Bagus Putra (30) langsung menuju ke lokasi penemuan situs tersebut. Namun sebelum sampai ke lokasi situs, dengan dipandu Ida Bagus, Peter Erich mampir dulu di Kantor Camat Kayangan.

Selanjutnya, dengan didampingi anggota Munajat Sesait Agus Engkang, Peter Erich dan rombongan menuju lokasi situs. Dalam rombongan ini, ikut juga wartawan suarakomunitas,net.

Peter Erich Boeck, saking semangatnya untuk segera tiba dilokasi situs tersebut, samapai-sampai tak terasa kakinya lecet karena terpeleset. Maklum, rute menuju situs ini membutuhkan kehati-hatian, mengharuskan setiap orang melewati tebing bebatuan  yang curam.

Ketika ditanya Penulis, Peter Erich merasa kagum dengan keberadaan situs yang ada di Kayangan ini. Menurutnya, selama berkeliling dunia, baru kali ini ia melihat bekas telapak kaki yang sangat besar. ”Mungkin ini betul bekas telapak kaki raksasa,”katanya berdecak kagum.

Sebagaimana yang telah diberitakan media ini dan beberapa media sebelumnya, bahwa berita tentang keberadaan situs telapak kaki yang panjangnya 4 meter dan lebar 2 meter tersebut, adalah tidak terlepas dari adanya cerita mitos yang berkembang secara turun-temurun.

Salah satu mitos yang berkembang dimasyarakat adat wet Sesait adalah adanya seorang Datu atau orang suci yang sangat dihormati oleh kaula balanya (rakyatnya). Diceritakan bahwa Datu ini bersaudara dua orang, yaitu Datu Keling (Teruna Keling) dan Datu Daha (Teruna Daha).

Konon ceritanya, Datu Keling memiliki 2 orang anak yang berkarakter berbeda. , yaitu Kasmaran dan Montong Ulung. Dimana Kasmaran (Gurantang) berkarakter lembut, baik hati, sopan santun,dan patuh kepada orang tua. Sementara Montong Ulung (Cupak) berkarakter rakus dan sombong. Sedangkan Datu Daha hanya memiliki seorang putri namanya Sekar Sari.

Dalam perjalanan sejarah berikutnya, Konon ceritanya Datu Keling pernah berwasiat kepada Kaula Balanya (Rakyat) jika suatu saat dia akan menghilang maka dia akan meninggalkan bekas telapak kakinya. Sangat besar kemungkinan, jika bekas telapak kaki ini adalah jejak Datu Keling seperti yang diwasiatkan.
Menurut Sekjen Perbekel adat Wet Sesait Masidep (45), mengatakan bahwa penemuan situs telapak kaki yang berukuran besar ini, memang bersifat mistis dan aneh. Sebab secara logis tidak ada telapak kaki manusia berukuran besar seperti itu. Memang pernah ada beberapa mitos tentang terjadinya peristiwa tersebut.

Setelah puas berada disekitar situs telapak kaki tersebut, Peter Erich yang asal Jerman ini, kemudian diajak melihat situs yang ada hubungannya dengan situs telapak kaki Datu Keling tersebut. Yaitu, situs tempat duduknya sambil beristirahat, bekas telapak kaki kudanya dan bekas aliran air kencingnya. Selesai ditempat ini, kemudian perjalanan Peter Erich yang seorang petualang asal Jerman ini, dilanjutkan ketempat situs yang lain diwilayah Sesait.
Read more

Sumur Pemandian ‘Tau Lokak Empat’ Sesait

SESAIT, -- Jalan setapak menuju areal persawahan milik Dagul (55) dusun Sentul Desa Pendua Kecamatan Kayangan ini, sangat menguras tenaga.
Pasalnya, jalan yang menuju ke areal persawahan tersebut penuh liku-liku dan berbukit terjal. Letak tanah persawahan milik Dagul ini, berada sekitar 500 meter kearah tenggara dusun Sentul. Di ujung selatan tanah sawah milik Dagul inilah lokasi Sumur yang menurut sejarah Sesait dinamakan Sumur Lokok Kapuk.
Untuk sampai ke sumur ini, bisa ditempuh dengan jalan kaki maupun menggunakan kendaraan roda dua, bisa lewat desa Santong dan bisa juga lewat Sesait. Namun, bagi yang menggunakan kendaraan cukup sampai di dusun Sentul bagian atas dan diteruskan jalan kaki menuju lokasi dengan menyusuri pematang sawah.
Disekitar lokasi sumur Lokok Kapuk ini ditumbuhi oleh pohon durian, pohon Jot dan pohon nangka. Sebelumnya, disebelah timur sumur ini bertengger dengan angker pohon Kapuk (randu), yang oleh masyarakat setempat diyakini berumur ratusan tahun. Itulah sebabnya sumur yang memiliki sejarah sacral dijamannya ini, ketika ditemukan oleh masyarakat secara turun – temurun, pohon randu atau kapuk itu sudah ada disekitar sumur ini, sehingga oleh masyarakat setempat dinamakan Sumur Lokok Kapuk.
Konon, menurut sejarah Sesait, dimasa jayanya pemerintahan “Datu Sesait” atau yang lebih dikenal oleh masyarakat Wet Sesait dengan sebutan “Tau Lokak Empat” (Pemusungan, Penghulu, Mangku Gumi dan Jintaka), sumur lokok Kapuk ini adalah di yakini sebagai  tempat Pemandiannya.
    Menurut cerita A.Kaimah (alm) yang berkuasa di Kampu Sesait (1870) sebagai Raja Sesait yang ke-25 kala itu, yang diceritakan kembali oleh Dagul dan Bukren, bahwa keberadaan Sumur Lokok Kapuk ini, dulunya adalah sebagai induk dari seluruh mata air yang bermunculan di gontoran Sentul hingga Gubug Setowek. Namun setelah Sumur Lokok Kapuk ini ditutup oleh Tau Lokak Empat Sesait, maka sumur ini tidak lagi mengeluarkan air seperti sedia kala atau sebesar sebagaimana keadaannya semula.
Sebagaimana diceritakan bahwa diameter sumber mata air di sumur lokok Kapuk yang diyakini ditunggui oleh seekor ikan Tuna Putih ini adalah sebesar batang pohon enau. Tidak bisa dibayangkan, betapa besar air yang keluar dari sumur tersebut. Sehingga ketika sumur ini belum ditutup dulu, aliran airnya membentuk sebuah kali besar. Namun sekarang, bekas aliran kali tersebut sudah menjadi areal persawahan milik Dagul Sentul.
Sumur ini ditutup oleh Tau Lokak Empat Sesait, menggunakan Ijuk, pare bulu satu ikat, sebilah keris, seekor ayam putih mulus  dan daun  sirih digulung kemudian dimasukkan dalam kepeng bolong dalam sebuah upacara ritual adat, karena dikhawatirkan akan menjadi rebutan penguasa Hindu yang sampai ke wet Sesait kala itu. Seandainya sumur ini tidak ditutup, maka orang-orang Hindu pelarian Majapahit dari Jawa abad 16 silam, akan bermukim dan menetap di lokasi sekitar sumur itu.
    Kekhawatiran para sesepuh Sesait kala itu, patut diacungi jempol. Karena berhasil menutup sumur yang menjadi tempat pemandian para Datu yang memerintah di wet Sesait kala itu. Sehingga dengan ditutupnya sumur tersebut, penguasa Hindu yang datang ke Sesait yang merupakan pelarian dari Majapahit karena terdesak dengan masuknya pengaruh Islam masa itu, maka tidak menemukan sumur yang merupakan tempat pemandian para ‘Datu Sesait’ yang berkuasa secara turun-binurun.
Sumur Lokok Kapuk ini, walau sudah ditutup berabad-abad lamanya, namun airnya tetap mengalir meskipun tidak sebesar aslinya dulu, hingga sekarang dan airnya dimanfaatkan sebagai sumber kehidupan oleh warga sekitar Sentul atas dan bawah hingga Gubuk Setowek Desa Pendua Kecamatan Kayangan Lombok Utara.
Read more

Situs Makam Datu Sentul ‘Sinom’

SENTUL, -- Penelusuran Situs - situs Sejarah jejak masa lalu diwilayah wet Sesait, terus dilakukan hingga berita ini diturunkan.
Perjalanan panjang yang penuh lika-liku menguras waktu dan tenaga dalam pencarian jejak-jejak masa lalu, tentang keberadaan kehidupan para pendahulu penghuni gumi Sesait yang pernah jaya dimasanya ini, membutuhkan kesabaran yang luar biasa.
Pasalnya, para pencari situs Sejarah ini, tidak jarang harus bersusah payah keluar masuk hutan, masuk kampung, melewati areal persawahan, menyusuri sungai, belum lagi turun naik perbukitan. Hal ini membutuhkan semangat dan kesabaran yang tinggi, bagi para pencari jejak masa lalu, dibawah pimpinan Agus Engkang dan Bukren Klau ini.
Pada penelusuran kali ini, menurut Bukren Klau, difokuskan pada pencarian Situs Makam Datu Sentul yang bernama ’Sinom’. Makam ini tidak jauh dari jalan raya Sentul-Cempaka dan terletak dipinggir telabah, sekitar 10 meter  sebelah timur rumah Masdan (43) di Sentul Desa Pendua Kecamatan Kayangan Lombok Utara.
Keberadaan Makam ini, yang oleh masyarakat setempat diyakini memilki Karomah tersendiri. Misalnya saja, menurut salah seorang tokoh masyarakat Sentul yang tidak ingin dipublikasikan namanya mengatakan, ketika ada anggota masyarakat yang secara kebetulan duduk di atas makam Datu ini, maka seketika buah pelirnya terasa membesar. Padahal kenyataannya tidak demikian. Hanya perasaannya saja yang merasakan buah pelirnya membesar.
Pernyataan tersebut dibenarkan juga oleh Bukren Klau. ”Memang benar, dulu pernah ada orang yang sengaja duduk di atas makam Datu Sentul itu dan tiba-tiba orang tersebut tidak bisa bangun dari tempat duduknya, karena buah zakarnya terasa membesar dan berat untuk diangkat,” katanya.
Padahal lanjutnya, buah zakarnya tidak apa-apa dan biasa saja. Tidak ada perubahan. Itu hanya perasaannya saja yang dirasakan membesar. Kalau sudah demikian keadaannya, jika mengobati penyakit seperti itu, menurut Bukren Klau, harus pergi ke Makam tersebut, mengaku salah dan memohon kepada Yang Kuasa agar disembuhkan penyakit yang dideritanya. ”Insya Allah sembuh,” katanya meyakinkan.
Menurut sejarah, ketika Datu Sinom ini memerintah kerajaan Sentul ratusan tahun silam, diceritakan bahwa pada masa jayanya, Datu Sinom adalah satu – satunya Raja yang tidak memiliki musuh dengan raja-raja yang berkuasa dilingkar utara gunung Rinjani kala itu. Termasuk dengan Raja Sesait. Karena antara Raja Sentul dengan Raja Sesait berbesan.
Wilayah kerajaan Sentul diyakini adalah hanya sebatas gontoran Sentul yang sekarang hingga Gubug Setowek. Kerajaan ini memiliki Kaula Bala sejumlah 44 KK. Itulah sebabnya, hingga sekarang, jumlah penduduk yang mendiami daerah Sentul yang menjadi sebuah Dusun saat ini harus berjumlah 144 jiwa. Tidak boleh lebih dari itu. Kalau lebih, menurut Bukren, harus pindah tempat tinggal diluar dari wet Sentul.Karena dikhawatirkan ada perang. Itulah sebabnya, penduduk Sentul harus berjumlah 144 jiwa,tidak boleh lebih dari itu.
Peninggalan Datu Sinom diantaranya adalah Sumur Lokok Buyut. Sumur ini adalah tempat pemandian Datu Sinom beserta keluarganya. Namun keberadaan keluarga maupun sampai kapan memerintah, tidak banyak diketahui. Namun peninggalannya yang terkenal hingga sekarang yaitu "Tembang Sinom yang diciptakannya. Sehingga, dikalangan para penyair/pejanjam, tembang ini sudah tidak asing lagi ditelinga mereka. Hanya, Datu sinom ini memiliki menantu yang bernama Merkani. Merkani inilah yang menurunkan nenek moyang Bukren Klau di Sesait.
Dalam menjalankan kehidupan dalam lingkungan kerajaan, Merkani hidup sebagai seorang pande besi. Karena sebagian besar kaula bala kerajaan Sentul waktu itu, hidup sebagai petani. Kehidupan para petani masa itu, berhuma diladang. Dimana, seluruh gontoran Sentul ini dulunya penuh dengan hutan belantara. Sehingga sebagian besar rakyatnya membuka hutan belantara untuk dijadikan ladang/huma. Dalam mengelola ladang inilah para petani masa itu kebanyakan menggunakan alat Susur terbuat dari galih kayu busur. Oleh Raja Sentul Sinom kala itu, diperintahkanlah menantunya Merkani untuk membuat alat susur dari besi. Sehingga oleh rakyat kerajaan Sentul masa itu, Merkani yang juga menantu Raja Sinom ini, di kenal dengan sebutan Pande Merkani.
Hingga sekarang makam Pande Merkani yang terletak tidak jauh dari makam Datu Sinom (mertuanya) ini, tetap terpelihara dengan baik oleh keturunannya di Sentul. Salah satu keturunannya adalah Bukren Klau.
Menurut rencana dari pihak keturunan Pande Merkani Bukren Klau, kedua makam, baik makam Datu Sinom maupun makam Pande Merkani yang asal Klungkung Bali ini, dalam waktu dekat disekitar kompleks makam tersebut akan dibangun pagar pembatas. Hal ini dilakukan, menurut Bukren adalah untuk menjaga kelestarian situs sejarah para penguasa yang pernah ada dan jaya dimasanya.
Read more

Legenda Situs Sumur Lokok Paok Sesait

SESAIT, -- Penelusuran jejak situs-sistus sejarah Sesait tempo dulu yang tersebar diwilayah wet Sesait, hingga kini terus dilakukan.
Dalam penelusuran pencarian situs sejarah Sesait ini, Agus Wahyudi, salah seorang tokoh Pemuda Sesait, mengatakan bahwa, keberadaan situs-situs Sesait selama ini masih banyak yang belum ditemukan. Sedangkan yang sudah ditemukan baru sebagian kecil saja.

”Situs-situs sejarah Sesait yang sebagian besar tersebar diwilayah bagian timur KLU ini, masih banyak yang belum ditemukan, baru sebagian kecil saja,”kata Agus Wahyudi, yang biasa dipanggil Agus Engkang ini.

”Kami akan terus mencoba menelusuri jejak situs sejarah Sesait yang merupakan peninggalan nenek moyang Tau Lokaq Sesait yang pernah ada di zaman dulu, yang nyaris terlupakan ini. Sehingga nantinya, penemuan kami ini akan menjadi bukti bahwa peradaban Tau Lokak Sesait zaman dahulu betul-betul pernah ada dan jaya dimasanya,”jelas Agus Engkang semangat.

Dari hasil penulusuran jejak-jejak masa lalu tersebut, kali ini fokus pada penemuan situs pemandian Inaq Empleng Bleleng yaitu Situs Sumur Lokok Paok.

Sekitar satu kilo meter ke arah barat laut Kampung Sesait inilah lokasi situs Sumur Lokok Paok itu berada. Keberadaan sumur ini, persis dilereng bukit gontoran Gunung Konoq, diatas Lokok Saong sebelah timur Gubuq Setowek, yang  hingga kini keasliannya masih terpelihara rapi. Hanya saja, seiring dengan perubahan zaman jutaan abad yang silam, penutup dari sumur ini sudah raib ditelan waktu.

Menurut cerita M.Ali salah seorang tokoh masyarakat Sesait, menceritakan hal ihwal keberadaan sumur lokok paok tersebut.

Di ceritakannya bahwa, sumur lokok paok ini, dulu pada zaman ireng, sumur ini diyakini sebagai sumur tempat pemandian Inaq Empleng Bleleng. Batu lesung yang ada persis didekat sumur ini, diyakini sebagai wadah tempat menumbuk kelapa atau sejenisnya sebagai alat untuk keramas. Kebiasaan orang tua zaman dahulu, sebelum mandi, biasanya keramas terlebih dahulu, baru kemudian mandi ’melangeh’.

Tidak jauh dari tempat batu lesung tadi, yaitu sekitar satu meter arah utara darinya terdapat satu buah batu lesung lagi yang lubangnya ada lima. Ini, menurut M.Ali, diyakini juga sebagai tempat Inaq Empleng Bleleng menaruh segala macam racikan ramuan untuk dijadikan obat-obatan.

Disamping situs Sumur Lokok Paok, ada dua sumur lagi berderet disebelah utaranya, yaitu Sumur Lokok Lengkak dan Sumur Lokok Koloh yang menyerupai gua. Dari sumur Koloh yang menyerupai gua inilah hingga sekarang digunakan oleh penduduk Sejongga, untuk mengambil air sebagai sumber kehidupan mereka.

Menurut legenda yang berkembang secara turun- binurun dikalangan masyarakat Sesait, dari zaman dahulu hingga sekarang, diceritakan bahwa; pada zaman ireng (zaman kegelapan) atau mungkin juga pada zaman gletser jutaan tahun silam, hiduplah sepasang keluarga yang bernama Empleng Bleleng. Keluarga ini hidup dan berkembang membentuk sebuah komunitas yang oleh masyarakat setempat, diyakini mereka tinggal di gontoran Sesait yang sekarang. Sebagaimana layaknya kehidupan manusia zaman sekarang, kehidupan keluarga inipun yang pada zamannya, dalam kesehariannya terus bekerja banting tulang diladang miliknya demi menghidupi keluarganya.  

Dari hari berganti hari, terus berlangsung sepanjang masa, kehidupan sepasang keluarga Empleng Bleleng pun berubah menjadi masa paceklik. Pada masa ini kehidupan keluarganya mengalami masa serba kekurangan. Tidak ada yang akan dimasak. Keluarga ini berusaha semampunya untuk mendapatkan sekedar penyambung hidup bagi keluarganya. Sehingga pada suatu ketika, sang ibu (Empleng Bleleng) sedang menyajikan makanan sekedar pengganjal perut bagi anak-anaknya. Sedangkan sang suami ketika itu sedang bekerja diladang.

Diceritakan dalam legenda tersebut bahwa, ketika Inaq Empleng Bleleng menyajikan makanan buat anak-anaknya, tiba-tiba anaknya nyeletuk mengatakan; ”Inaq, awas ’dowen epe’ (punyamu ibu),”kata anaknya yang paling besar.

Tanpa pikir panjang, ibunya langsung memukul anaknya yang berbicara tadi dengan menggunakan sendok sayuran yang biasanya terbuat dari tempurung kelapa.

Peristiwa pemukulan Inaq Empleng Bleleng kepada anaknya ini, terdengar juga sampai diladang dimana lokasi tempat sang suami bekerja. Kemudian sang Suami begitu melihat keadaan anaknya yang berlumuran darah dari kepalanya, sang suami marah dan kalang kabut. Saking marahnya, sehingga kemarahannya ini tidak bisa dibendung, akhirnya sang suami kalap, dan menebas buah dada (payudara) sang isteri dengan menggunakan parang.

Karena akibat tebasan parang dari suaminya ini, Inaq Empleng Bleleng lantas pergi ke tengah arungan (laut dangkal) guna merendam lukanya.Ini dimaksudkan agar darah yang terus mengucur keluar dari lukanya itu bisa dihentikan.

Berhari-hari, berminggu-minggu dan bahkan berbulan-bulan, Inaq Empleng Bleleng terus berendam.Karena terlalu lamanya berendam, anak yang ditinggalkan dirumahnya bersama suami dan anaknya yang paling besar, menjadi kewalahan. Pasalnya, anaknya yang bungsu masih membutuhkan air susu ibunya.

Dalam keadaan penyesalan yang amat dalam, sang suami berharap agar sang istri bisa keluar dari tengah arungan atau dari berendamnya. Namun, sang istri bersikukuh tidak mau keluar, dia memilih tetap tinggal dalam arungan tersebut.

Sang suami sudah kehabisan akal membujuk istrinya, agar mau keluar menyusui anaknya yang masih kecil tersebut. Tetapi, istrinya tetap tidak memperdulikannya. Langkah terakhir yang ditempuh sang suami yaitu dengan menyuruh anaknya yang paling besar menyusul ibunya. Dengan langkah yang tertatih-tatih sambil menggendong adiknya, lalu menyusul ibunya, dengan harapan adiknya dapat disusui ibunya.

Setibanya dipinggir pantai, sambil berlarian kesana-kemari dengan memanggil-manggil ibunya, agar keluar sebentar menyusui adiknya. Sementara adiknya sambil digendong terus menangis tiada hentinya. Sampai-sampai suaranya tidak kedengaran lagi. Karena ibunya tidak mau keluar, sang kakak juga ikut menangis sejadi-jadinya. Akhirnya, mungkin karena naluri sang ibu muncul dihatinya,tidak tega melihat nasib kedua anaknya terus menangis dipinggir pantai, lalu dipanggillah anaknya agar ikut masuk ke tengah arungan menemui ibunya. Lalu kedua anaknya masuk ke tengah arungan menemui ibunya.

Ajaib, setelah ibu dan kedua anaknya bertemu saling melepas rindu, maka sang ibu tidak mau lagi berpisah dengan kedua anaknya. Lalu dia memohon kepada Yang Kuasa agar mereka dijadikan batu saja. Sehingga permohonan ibu yang malang ini, terkabulkan. Sekarang batu penjelmaan dari Empleng Bleleng dan kedua anaknya ini,masih ada terpelihara dengan baik ditanah milik almarhum Dabak Sesait di Gunung Konoq, sekitar satu kilometer barat laut Kampung Sesait sekarang.
Read more

Pemahaman Adat Versi Komunitas Sesait

SESAIT,-- Adat adalah sesuatu yang bersifat luhur, yang menjadi landasan kehidupan bagi masyarakat. Adat ditetapkan secara bersama sejak zaman dahulu hingga sekarang sebagai sarana menjamin keharmonisan antara sesama manusia dengan alam sekitar, dan manusia dengan sang penciptanya.
Menurut Pembekel Adat Sesait Masidep, mengatakan bahwa adat sering dipertentangkan dengan agama oleh banyak kalangan, terutama dimasa transisi dari istilah ”gama telu”(gama waktu telu) menjadi ”gama lima” (agama Islam). Justeru agama mengakui keberadaan adat sebagai bentuk pengejawantahan dari keyakinan beragama.

   Dijelaskan Masidep bahwa, umumnya dalam masyarakat Suku Sasak khususnya komunitas Sesait, dikenal istilah ”Adat Luwir Gama”, bahwa adat bersendikan agama.

”Hukum adat sangat perlu ditumbuhkan sepanjang tidak bertentangan dengan norma-norma agama,”jelas Masidep.
Dengan istilah ”agama diadatkan” dan bukan ”adat diagamakan” artinya, lanjut Masidep,bahwa perintah-perintah agama harus diadatkan atau dibudayakan dan diamalkan  dalam kehidupan sehari-hari.
Masyarakat adat Sesait sangat menjunjung tinggi keluhuran adat luwir gama dengan senantiasa melaksanakan tradisi upacara keagamaan versi adat Sesait, seperti sebut saja upacara agama bulan Mi’raj, upacara syukuran bulan lebaran, upacara ruwah tananman, perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw secara adat dan lain-lain.
Kegiatan – kegiatan ini sudah dilakukan sejak zaman dahulu oleh pranata adat dan agama yang memiliki kepribadian tinggi terhadap nilai-nilai agama Islam.Sehingga sudah merupakan agenda budaya yang tetap dipertahankan dan dilestarikan dari generasi ke generasi.
    Sementara itu salah seorang tokoh adat Sesait Djekat mengatakan bahwa, kata adat dari segi hukum mengandung pengertian norma atau aturan yang merupakan kebiasaan tidak tertulis. Walaupun sifatnya tidak tertulis, tetapi mengandung unsur nilai yang dihormati dan disepakati oleh seluruh masyarakat adat Sesait.
Sedangkan unsur nilai adat pada umumnya ,menurut Djekat menjelaskan, ada dua hal, pertama, hal-hal yang bersifat anjuran atau keharusan yang patut dikerjakan, kedua,hal-hal yang bersifat larangan atau menurut adat bersifat ”Maliq”(Pemalik) untuk dikerjakan.
”Khusus untuk unsur yang kedua,apabila dilanggar akan mendapat sanksi moral berupa ejekan,celaan,cemoohan dari warga persekutuan adat Sesait,”katanya
Read more

Struktur Kelembagaan Adat Sesait

SESAIT, -- Secara historis, munculnya adat di Sesait memiliki empat komponen Petinggi Adat yang sudah diakui secara turun - temurun.
Menurut Djekat, salah seorang  tokoh adat Sesait mengatakan bahwa, petinggi adat yang kalau di komunitas Sesait dikenal dengan ’Tau Lokaq Empat,’ yaitu, Pertama,Pemusungan Adat, adalah sebagai pimpinan pemerintahan desa, Kedua, Penghulu Adat, adalah tokoh agama sebagai pemegang, penegak dan pengatur masalah hukum serta norma-norma agama dan adat. Ketiga, Jintaka, yaitu sebagai pemberi dan pelaksana izin/hajat yang diminta masyarakat, dan yang Keempat yaitu Mangku Bumi, yaitu sebagai perumus dan penentu awiq-awiq dan sanksi-sanksi adat.

Selanjutnya Djekat menjelaskan bahwa empat komponen tadi merupakan jabatan dalam struktur kelembagaan Adat Wet Sesait bersifat baku. Artinya apapun yang terjadi, rezim manapun yang berkuasa di negara ini, serta bagaimanapun perubahan zaman, komunitas adat Sesait tetap menghormati dan menjunjung tinggi keberadaan dan eksistensinya.


Hal ini dapat dibuktikan, bahwa pada puncak pemerintahan orde baru dengan berbagai kebijakannya yang berdampak pada penggembosan pranata lokal dan institusi adat, tetapi di Sesait, lembaga adat dan keempat komponennya itu tetap utuh dan kokoh.


Menurut perbekel adat Sesait Masidep, mengatakan bahwa, sebagai Petinggi Adat dengan jabatan dan tugasnya masing-masing, keempat tokoh Tau Lokaq Empat ini memiliki kepribadian yang mencerminkan kemuliaan dan keikhlasan terhadap tugas-tugas yang di embannya serta perlambangan untuk keempat tokoh ini lebih bernuansa Islam.


Lebih lanjut Masidep menjelaskan perlambangan dari keempat tokoh Tau Lokaq Empat ini dengan bernuansa Islam yang kental.

Pertama, Pemusungan Adat, dilambangkan dengan warna ’merah’, artinya keberanian, yaitu berani mengambil sikap, keputusan dan kendali terhadap segala permasalahan yang dihadapi. Apapun yang terjadi harus berani bertanggungjawab, baik internal maupun eksternal. Sosok ini menggambarkan watak dan kepribadian sahabat Nabi Muhammad Saw yang bernama ’Sayyidina Ali’,ra.

Kedua, Penghulu Adat, dilambangkan dengan warna’putih’ artinya kesucian, yaitu harus menentukan hukum dan norma-norma yang bersih, baik terhadap agama maupun adat, sehingga tidak menimbulkan penyimpangan hukum atau norma yang mengarah pada ketidakadilan. Disamping itu tokoh ini pengemban amanat untuk selalu melanjutkan perjuangan Nabi Muhammad Saw secara utuh, sehingga sosok ini menggambarkan watak dan kepribadian sahabat Nabi yang kedua yakni ’Sayyidina Abubakar, ra’.


Ketiga, Jintaka (Mangku Alam), dilambangkan dengan warna ’kuning’ artinya pemberi/penyebar, yaitu menyebarluaskan wilayah hukum adat Sesait dan memberi izin berupa pelaksanaan syarat/hajat yang berkaitan dengan bencana atau musibah. Misalnya, sebut Masidep, wabah kekeringan, wabah penyakit dan macam-macam wabah penyakit lainnya. Tokoh ini pula memiliki keahlian dalam menciptakan kemakmuran,baik perekonomian maupun usaha-usaha lain. Sosok ini menggambarkan watak dan kepribadian sahabat Nabi Muhammad Saw yang ketiga yaitu ’Sayyidina  Utsman, ra.’


Keempat, Mangku Gumi, dilambangkan dengan warna ’biru’ atau ’hijau’ artinya kesuburan yang mendatangkan kemakmuran, sehingga dapat memberi warna kehidupan yang sejahtera lahir bathin.


Berkaitan dengan kesuburan, masih menurut Masidep, bahwa pemelihara lingkungan alam pertanian dan menjaga kesuburan tanaman, sejak tanam bibit hingga panen. Kegiatan yang menyangkut tanah dan tanaman, Mangku Gumi ini dibantu oleh stafnya (penyuluh/PPL-nya) yang disebut ’Anakoda’ yang tersebar diseluruh gubug/kampung. Sedangkan untuk kegiatan pelestarian alam atau hutan (gawah) dan lingkungannya, Mangku Gumi dibantu oleh beberaoa stafnya yang disebut ’Mangku Gawah’. Karena dapat memberi atau menciptakan kesuburan, kemakmuran dan ketentraman bagi warga, maka Mangku Gumi ini digambarkan seperti watak sahabat Nabi Muhammad Saw yang keempat yaitu ’Sayyidina Umar, ra”.


Jabatan yang mempunyai tugas dan kewenangan masing-masing, namun pada saat-saat tertentu, empat tokoh yang kalau di wet Sesait disebut Tau Lokaq Empat ini, bekerjasama secara kolektif, terpadu dan terkoordinasi. Dimana Pemusungan Adat bertindak sebagai penggerak dan pengendali. Misalnya penangkal kekeringan dan wabah penyakit, upacara agama dan adat, kebutuhan dalam upacara perkawinan, serta penyelesaian berbagai kasus adat dan sosial kemasyarakatan.
Read more

Ziarah ke Makam Keramat Kubur Beleq Sesait

SESAIT
--- Ketika menyebut makam Kubur Beleq (besar) hampir semua warga Sesait - Kayangan sudah mengenalnya. Mengingat perjalanan panjang sejarah penyebaran Islam di Sesait, sangat erat kaitannya dengan keberadaan makam ini.

Tidak sedikit mitos yang melingkari keberadaan makam Kubur Beleq, sosok ulama yang dikabarkan sebagai mubaligh berasal dari Bagdad ini, sebarkan Islam sampai ke tanah Sesait, sekitar awal abad ke 17.

Kini makamnya, yang dalam komunitas Sesait – Kayangan dikenal dengan sebutan Kubur Beleq, ziarahnya dilakukan dua kali setahun dan dilakukan setiap hari Jum’at. Ritual ziarah makam Kubur Beleq ini, oleh komunitas Sesait disebut ’Ngaturang Ulak Kaya’.

”Ini adalah sebagai bukti bentuk wujud syukur kita kepada Allah Swt. Sehingga kita sebagai generasi penerus, jangan sampai makna Ngaturang Ulak Kaya dengan membawa dulang kesini ( Kubur Beleq...red) ini,  memberikan penafsiran yang berbeda. Ini murni bentuk wujud syukur kita kepada Allah Swt,” urai Djekat dihadapan ratusan para peziarah.

Disamping itu, lanjut Djekat, bahwa Wali yang berjasa dalam menyebarkan Islam di tanah Sesait ini, sangat penting keberadaannya di komunitas Sesait zaman dulu, karena telah menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka, karena berjasa dalam penyebaran agama Islam di gumi Sesait, sehingga makamnya memiliki makna spiritual yang luar biasa.

Makam Kubur Beleq, diyakini sebagai makam Titik Pati yang bergelar Kanjeng Pangeran Sangupati, adalah penyebar Islam pertama di tanah Sesait awal abad 17 silam. Makam ini terletak sekitar 300 meter arah utara dusun Sesait Desa Sesait Kecamatan Kayangan Lombok Utara. Untuk sampai ke tempat makam Kubur Beleq ini, tidak harus menguras tenaga yang besar. Cukup jalan kaki beberapa menit, sudah sampai dilokasi.Begitu tiba dilokasi makam, kita akan singgah dulu dimakam Titik Pati yang lokasinya persis didekat pintu masuk.

Para peziarah yang akan melakukan ziarah ke makam Kubur Beleq, terlebih dahulu harus melakukan zikir di makam Titik Pati ini. Karena diyakini bahwa makam ini adalah makam dari ayahanda dari Kanjeng Pangeran Sangupati. Jadi sebelum ziarah ke makam Kanjeng, harus ke makam ayahandanya terlebih dahulu. Hal ini dimaksudkan untuk minta ijin tentang hajatan datang ke makam tersebut.

”Makam Titik Pati ini diyakini oleh masyarakat adat Sesait bahwa, inilah makam para penyebar ajaran Islam di tanah Sesait yang pertama kali menganut Islam, tetapi belum sunnat,”jelas pembekel adat Sesait Masidep.

Dijelaskannya juga bahwa, setelah selesai zikir/minta ijin di makam Titik Pati, lalu dilanjutkan ke makam Kanjeng Pangeran Sangupati, yang lokasinya tidak jauh dari tempat itu. Hanya beberapa meter saja. Makam Kanjeng Pangeran Sangupati, yang menurut komunitas Sesait dikenal dengan sebutan Kubur Beleq, disekelilingnya terdapat empat makam kecil-kecil, yang diyakini juga sebagai makam para pendampingnya.

Empat orang pendamping Kanjeng dalam rangka syiar Islam ditanah Sesait ini, yang oleh orang Sesait dikenal sebagai patih/panglima perang. Keempat patih ini adalah Daman, Rafikah,Jumanah dan Rafi’ah.

Dalam masa hayatnya, Kanjeng Pangeran Sangupati mendedikasikan dirinya untuk menyerukan kepada warga masyarakat Sesait agar menganut Islam, maka peran para patih inilah yang sangat penting dalam membantu syiarnya ajaran Islam saat itu.

Namun peran wali ini dalam menyiarkan ajaran Islam di Sesait, belum sepenuhnya tuntas memberikan pencerahan  terhadap warga. Karena sang wali terlebih dahulu mangkat. Sehingga sinkretisme (paham agama yang melibatkan unsur tahayul) dan animisme, bercampur aduk dengan ajaran yang diajarkan. Maka lahirlah pemahaman Islam waktu telu dan praktek keagamaan lainnya yang jauh dari ajaran Islam.

Menurut Djekat salah seorang tokoh adat Sesait mengatakan bahwa, wali yang membawa dan menyebarkan ajaran Islam di tanah Sesait yang dimakamkan disini adalah Titik Pati. Ziarah ini dilakukan dua kali setahun, dengan maksud menapak tilas perjalanan sejarah penyebaran Islam di tanah Sesait.
Read more

--[[Formulir Kontak]]--

Nama

Email *

Pesan *