Sejarah Masuknya Islam di Gumi Sesait
SESAIT,-- Nama dan istilah Sesait berasal dari bahasa
Arab, yaitu Sayyid, sebagai istilah untuk memberi gelar kepada para
pemimpin agama atau orang yang memiliki pengetahuan luas dibidang agama
Islam.
Kata Sayyid, juga digunakan untuk menunjuk seseorang yang memiliki gelar keturunan atau sahabat Nabi Muhammad Saw yang menyebarkan agama Islam.
Konon, berawal dari sebuah kampung kecil bernama Sesait, yang merupakan sebuah dusun tertua dan tradisional, bahwa pada zaman jelma ireng (zaman gelap/Kecikol Kondoq), datanglah seorang ulama muda dari Timur Tengah (Bagdad) bernama Sayyid Anom atau Sayyid Rahmat atau lebih dikenal dengan sebutan Raden Rahmat untuk menyebarkan agama Islam.
Dusun Sesait merupakan dusun tertua dan tradisional diwilayah Desa Sesait, yang lazim disebut dusun adat. Karena di dusun inilah terdapat benda-benda bersejarah peninggalan Sayyid Anom dalam kiprahnya menyebarkan agama Islam. Seperti Al-Qur’an tulis tangan pada kulit onta, yang usianya menurut Piagam Sesait sekitar 580 tahun yang lalu. Disamping itu, ada juga peninggalannya yang lain, seperti Mesjid Kuno, Tongkat khutbah yang terbuat dari hati pohon pisang (galih) dan Balai Agung Adat (Singgasana Raja) yang disebut Kampu.
Ajaran-ajaran yang dibawa oleh ulama Sayyid Anom ini adalah Fiqh Ushul dan Tasawuf. Dalam praktek syiarnya, metode yang dilakukan adalah tidak bertentangan dengan adat istiadat setempat. Sehingga dalam perayaan hari-hari besar Islam, seperti Maulid Nabi Muhammad Saw ketika itu, dilaksanakan secara adat. Hingga kini, ritual Maulid adat di kampung yang namanya Sesait ini, tetap lestari pelaksanaan Maulid secara Adat.
Ulama Sayyid Anom, dalam penyampaian risalah atau ajaran agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw ini, menurut Piagam Sesait, bahwa Raja Sesait Demung Melsi Jaya, berikut empat orang Patihnya masuk Islam pada awal abad ke 17.
Kata Sayyid, juga digunakan untuk menunjuk seseorang yang memiliki gelar keturunan atau sahabat Nabi Muhammad Saw yang menyebarkan agama Islam.
Konon, berawal dari sebuah kampung kecil bernama Sesait, yang merupakan sebuah dusun tertua dan tradisional, bahwa pada zaman jelma ireng (zaman gelap/Kecikol Kondoq), datanglah seorang ulama muda dari Timur Tengah (Bagdad) bernama Sayyid Anom atau Sayyid Rahmat atau lebih dikenal dengan sebutan Raden Rahmat untuk menyebarkan agama Islam.
Di kampung kecil inilah si Sayyid tinggal untuk menetap dan menyebarkan
ajaran agama Islam. Sepeninggal Sayyid Anom, namanya sering disebut
dengan sebutan Si Sayyid (Sesait), yang kemudian diabadikan untuk
memberi nama kampung tempat tinggalnya yang sampai saat ini disebut
Sesait.
Dusun Sesait merupakan dusun tertua dan tradisional diwilayah Desa Sesait, yang lazim disebut dusun adat. Karena di dusun inilah terdapat benda-benda bersejarah peninggalan Sayyid Anom dalam kiprahnya menyebarkan agama Islam. Seperti Al-Qur’an tulis tangan pada kulit onta, yang usianya menurut Piagam Sesait sekitar 580 tahun yang lalu. Disamping itu, ada juga peninggalannya yang lain, seperti Mesjid Kuno, Tongkat khutbah yang terbuat dari hati pohon pisang (galih) dan Balai Agung Adat (Singgasana Raja) yang disebut Kampu.
Ajaran-ajaran yang dibawa oleh ulama Sayyid Anom ini adalah Fiqh Ushul dan Tasawuf. Dalam praktek syiarnya, metode yang dilakukan adalah tidak bertentangan dengan adat istiadat setempat. Sehingga dalam perayaan hari-hari besar Islam, seperti Maulid Nabi Muhammad Saw ketika itu, dilaksanakan secara adat. Hingga kini, ritual Maulid adat di kampung yang namanya Sesait ini, tetap lestari pelaksanaan Maulid secara Adat.
Ulama Sayyid Anom, dalam penyampaian risalah atau ajaran agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw ini, menurut Piagam Sesait, bahwa Raja Sesait Demung Melsi Jaya, berikut empat orang Patihnya masuk Islam pada awal abad ke 17.













Anda sedang membaca sebuah artikel yang berjudul 

0 komentar:
kalau anda termasuk orang yang kreatif tinggalkan pesan !!